Subscribe

Penjelasan Kebathilan Hadith Perselisihan Itu rahmat

by Farhan Shah

Berikut nukilan perkataan Ahlul Hadits tentang sebuah hadits masyhur : “Perselisihan Umatku adalah Rahmat”.

Asy Syeikh Al Muhadits Nashiruddin Al Albani rohimahullah dalam Silsilah Ahadits Adh Dho’ifah mengenai “hadits” ini, beliau berkata : “Hadits ini tidak ada asalnya”.

Para muhadits sudah berupaya keras untuk mendapatkan sanad hadits ini tetapi mereka tidak mendapatkannya.


Sampai beliau (Al Albani) berkata : “Al Munawi menukil dari As Subki bahwa dia berkata : “Hadits ini tidak dikenal oleh para muhadits, dan saya belum mendapatkannya baik dalam sanad yang shohih, dho’if, atau maudhu’.


Syaikh Zakariya Al Anshori menyetujuinya dalam ta’liq atas Tafsir Al Baidlawi 2/92 Qaaf (masih dalam manuskrif) Makna hadits ini pun diingkari oleh para ulama peneliti hadits.


Al ‘Allamah Ibnu Hazm berkata dalam kitabnya Al Ihkam fi Ushulil Ahkam Juz 5/hal 64 setelah
beliau mengisyaratkan bahwasanya “ucapan” itu bukan hadits : “Ini adalah ucapan rosak yang paling rosak.


Karena jika perselisihan itu rahmat, tentu kesepakatan itu sesuatu yang dibenci dan tidak ada seorang muslim pun yang mengatakan yang demikian dan yang ada hanyalah kesepakatan atau perselisihan, rahmat atau azab yang dibenci".

Di kesempatan lain beliau mengatakan : “batil dan dusta”. (Silsilah Ahadits Adh Dho’ifah juz 1, hadits no 57 hal 141).

Dalam kitab Zajrul Mutahawin bi Adz Dzoror Qo’idatil Ma’dzaroh wa Ta’awun hal 32, yang ditulis oleh Hamad bin Ibrohim Al Utsman dan kitab ini telah dimuroja’ah (diteliti ulang) oleh Asy Syeikh Al Allamah Sholeh bin Fauzan Al Fauzan.


Disebutkan bahwa : “Hadits ini lemah secara sanad dan matan.


Tidak diriwayatkan di dalam kitab-kitab hadits dengan lafadz ini.


Adapun yang masyhur adalah hadits “Perselisihan para shahabatku adalah rahmat”. Dan sebagian dari ulama ahli ushul menyebutkan hadits tersebut sebagaimana yang dilakukan Ibnul Hajib di dalam Mukhtashornya tentang ushul fiqih.


Berkata Abu Muhammad ibnu Hazm : “Adapun hadits yang telah disebutkan “Perselisihan umatku adalah rahmat” adalah kebatilan dan kedustaan yang bermuara dari orang yang fasik.” (Al Ahkam fi Ushulil Ahkam 5/61)


Al Qoshimy mengomentari (sanad dan matan) hadits ini, dalam kitab Mahasinut Ta’wil 4/928 :


Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa hadits ini tidak dikenal keshohihan sanadnya. At Thobrony dan Al Baihaqy meriwayatkannya di dalam kitab Al Madkhol dengan sanad yang lemah dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’.

Adapun ‘ilat (kelemahan) hadits ini adalah :

1. Adanya perawi yang bernama Sulaiman bin Abi Karimah, Abu Hatim Ar Rozy melemahkannya.

2. Perawi yang bernama Juwaibir, dia seorang Matrukul Hadits (ditinggalkan haditsnya) sebagaimana yang dinyatakan Nasa’i, Daruquthny. Dia meriwayatkan dari Adh Dhohhak perkara-perkara yang palsu termasuk “hadits” ini.

3. Terputusnya (jalur riwayat) antara Adh Dhohhak dan Ibnu ‘Abbas.


Berkata sebagian ulama : “Hadits ini menyelisihi nash-nash ayat dan hadits, seperti firman Allah Ta’ala :


“ Jika Allah kehendaki nescaya dapat Dia menjadikan semua manusia itu umat yang satu tetapi mereka itu (dijadikan ) berselisih kecuali ORANG YANG DIKASIHI OLEH TUHAN-MU” (Surah hud : 118).

sabda Rasulullah “Janganlah kalian berselisih, maka akan berselisihlah hati-hati kalian” (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan dikeluarkan di dalam Sunan Abu Daud oleh Asy Syeikh Al Albani) dan hadits-hadits yang lain banyak sekali.


Maka kesimpulannya bahwa kesepakatan (di atas kebenaran) itu lebih baik daripada perselisihan.

Penutup

Setiap muslim yang mengaku beriman kepada Allah dan hari Akhir, nescaya akan menyatakan bahwa dirinya cinta kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Namun cinta tidaklah cukup di lisan saja.


Bahkan harus diwujudkan dalam amal perbuatan.


Salah satu bukti cinta kita kepada Beliau adalah tidak lancang/berani dalam menukil suatu ucapan, lalu mengatas namakan Rasulullah.


Hendaklah takut akan ancaman Beliau : “Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah ia menempatkan tempat duduknya dari api neraka”. (HR.Bukhori)


Alhamdulillah dari penjelasan Ahlul Hadits di atas, dapat diketahui bahwa hadits “Perselisihan umatku adalah rahmat” ternyata bukan merupakan sabda Rasulullah. Atau disebut juga hadits maudhu’.


Padahal hadits ini sangat popular dan menyebar bahkan menjadi pegangan para aktivis dakwah.
Namun sebagai seorang muslim yang mahu menerima kebenaran, tentulah akan bersegera meninggalkan hadits ini, sebagai salah satu tanda wujud cinta dia kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Allah berfirman : “Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali Imron : 103)

Al Hafidz Ibnu Katsir rohimahullah berkata : “Allah telah memerintahkan kepada mereka (umat Islam) untuk bersatu dan melarang mereka dari perpecahan. Dalam banyak hadits juga terdapat larangan dari perpecahan dan perintah untuk bersatu dan berkumpul (di atas kebenaran).” (Tafsir Ibnu Katsir 1/367).

Oleh kerana tiada dalil dan hujah yang sahih yang mendokong perselisihan itu ada kebaikan maka hendaklah kita ketahui bahawa perpecahan itu bukanlah rahmat sebaliknya azab dan keburukan. Marilah kita bersatu di atas Al-Qur'an dan as-sunnah sebagai seorang muslim soleh yang berpegang teguh kepada agama Allah swt

No comments:

Post a Comment

Tinggallah apa sahaja komen walau sepatah kata, moga dengan komen yang kalian suarakan memberi manfaat kepada semua

Kalian berhak suarakan apa sahaja di ruang komen dibawah. Komen tidak akan ditapis, dan terima kasih diatas komen yang diberi.